Daftar Blog Saya

Sabtu, 05 Maret 2011

Mandailing Bukan Batak

undefinedPada “Konvensyen Sejarah dan Budaya Negeri Perak Darul Ridzuan” di Dewan Jubli, Politeknik Ungku Omar, Ipoh, Perak, Malaysia, 29 september 2001 lalu, sejarawan Malaysia Mohamed Azli Bin Mohamed Azizi mengatakan bahwa Mandailing bukan Batak.

Dalam makalah bertajuk “Sejarah kedatangan orang- orang Mandailing ke semenanjung tanah Melayu”. Mohamed Azli Bin Mohamed Azizi mengatakan bahwa pendapat tersebut telah didukung oleh sarjana Belanda, Jerman dan Indonesia. Mereka adalah Prof. Dr. G.A. Wilken Hoogleeraar Van Het Rijks dari Universitas Leiden, Dr. Van Deur Tuk, dan Dr. Jughun. Pendapat mereka didukung pula oleh Abdullah Lubis, Mangaraja Ihutan, Dada Muraxa, Pangaduan Lubis, dan Arbain Lubis.

Puncak kekeliruan mengenai “Mandailing bukan Batak” telah tercetus dari satu peristiwa pada tahun 1922 di Kayu Laut, Mandailing. Dalam peristiwa tersebut seorang kepala sekolah HIS bernama Todung Gunung Mulia yang bersekongkol dengan seorang kolonial tentara Belanda dari Sibolga untuk menguatkan orang Mandailing itu sebagai satu rumpun dengan orang Batak demi kepentingan agama dan politik serta pentadbiran (mengelola pemerintahan) bagi penjajah Belanda.

Usaha Todung dan kolonial Belanda tersebut berhasil mendapatkan tanda tangan 14 orang kepala Kuria di Mandailing (yang dari mulanya dilantik sebagai kepala Kuria oleh pihak pentadbiran Belanda) diatas surat pengakuan bahwa Mandailing itu adalah sebagian dari daerah Batak.

Pengakuan tersebut telah membawa arti bahwa tanah Mandailing tergolong dalam daerah tanah Batak dan dengan kemiripan budaya antara kedua etnik itu, maka mandailing dengan mudah dikategorikan sebagai yang berasal dari suku Batak.

Dalam peristiwa ini, orang- orang batak yang beragama Kristen sangat disenangi oleh Belanda, sehingga tercetuslah hasrat mereka untuk menonjolkan etnik Batak sebagai ibu rumpun bagi kaum- kaum yang mempunyai persamaan dalam beberapa aspek budaya di Sumatra Utara yang meliputi daerah Tapanuli Selatan, yaitu Mandailing.

Kenyataan ini juga seakan- akan menggambarkan missionaris Kristen telah berjaya mengkristenkan daerah Tapanuli lebih dari 60% penduduknya, padahal mereka gagal di Tapanuli Selatan dan Mandailing. Jika benar Mandailing itu Batak. Kenapa perlu ada satu pengakuan (1922) di Kayu Laut sebagai pengakuan Mandailing bagian dari rumpun Batak?

Agenda terselubung

Jelas sekali Todung, missionaris Kristen, dan kolonial Belanda dari Sibolga itu mempunyai agenda terselubung untuk menjadikan daerah mandailing sebagai daerah Batak sekaligus menjadikan Mandailing sebagai rumpun Batak yang kebanyakan telah menjadi Kristen.

Peristiwa ini  (yang merupakan satu penipuan kaum Batak dengan Belanda) telah ditentang habis- habisan oleh masyarakat Mandailing hingga kemuka pengadilan Mahkamah Tinggi di Folks Road, Batavia pada tahun 1922. seorang ahli antropologi yang sangat disegani, H. Van Wageningen dari Holland, telah memberi ulasan di Mahkamah mengenai bantahan orang- orang Mandailing itu.

Peristiwa penipuan Batak/ Belanda ini juga dikenal sebagai “Batak Maninggoring” dan telah berakhir dengan keputusan pengadilan di Folks Road yang menyatakan dengan jelas bahwa Mandailing asalnya bukan Batak dan bukan pula bagian dari daerah Batak, dan tidak pernah ditaklukan oleh orang Batak.

Ada juga peristiwa yang menyangkal anggapan Mandailing itu Batak. Kisah tanah wakaf bangsa Mandailing di sungai mati. Medan yang memperlihatkan tuntutan Batak Islam untuk dikebumikan ditanah wakaf khusus untuk orang- orang Mandailing. Perkara ini telah dibawa ke pengadilan Mahkamah Syariah Islam dan juga Mahkamah Raad Van Justice di Medan.

Keputusan kedua mahkamah itu menyatakan, orang- orang batak meskipun beragama Islam tidak boleh dikebumikan di tanah wakaf yang dikhususkan untuk orang- orang Mandailing karena mereka tetap bukan orang Mandailing. Orang batak yang telah Islam dan tinggal ditanah Mandailing juga tidak benar dikebumikan di tanah wakaf Sungai Mati di Medan karena meraka bukan orang Madailing* ABD.WAHID LUBIS.

Ratu Opera Batak dari Tiga Dolok boru batak Zulkaidah br Harahap


undefinedNgeri-ngeri sedap! Itulah ungkapan cerdas sarat makna dari Zulkaidah br Harahap (60), mantan maskot opera Batak pimpinan Tilhang Gultom pada 1960-an hingga awal 1970-an. Konteks ucapan Zulkaidah br Harahap, yang amat populer dengan panggilan boru Harahap itu, sebetulnya sederhana. Bahwa, menjadi seniman tradisi seperti yang ia geluti selama ini ternyata penuh dinamika. Suka dan duka kerap berjalan beriring. Jarak yang memisahkan keduanya pun terkadang begitu tipis meski di lain waktu bisa begitu jauh merentang; ibarat bumi dan langit. Apalagi ketika nasib opera Batak yang ia geluti sejak tahun 1963 kini sudah lebih dari dua dekade mati suri. Zulkaidah pun dipaksa menerima kenyataan jauh lebih buruk. Bukan saja ia kehilangan panggung seni yang menghidupinya, tetapi sekaligus kehilangan kesempatan memenuhi wasiat (alm) Tilhang Gultom agar ia tetap bisa menghidupi seni tradisi yang ikut membesarkannya tersebut. Agar bisa bertahan hidup, Zulkaidah harus berjualan tuak dan kacang goreng keliling. Ikut kapal penyeberangan Danau Toba dari Tuktuk ke Tomok di Pulau Samosir sudah kerap ia jalani. Setiap ada keramaian di desa-desa yang bisa ia capai, tentu akan didatanginya.

Namun, satu hal yang tak pernah ia lupakan, ke mana pun pergi aneka jenis sulim—seruling khas yang biasa ia gunakan untuk mendendangkan lagu-lagu opera Batak—selalu menyertainya, bahkan di kala tidurnya. “Sambil jual tuak dan kacang goreng, ketika lagi tidak ada pembeli, kutiuplah sulim dalam irama lagu ungut-ungut (lagu kesedihan). Pernah sekali waktu, saat aku tiup sulim sambil duduk di pokok kayu tak jauh dari pesta keramaian, eh, datang bapak-bapak. Katanya, ’Namboru, sedih ’kali, ya, suara sulim-nya.’ Lalu orang pun satu per satu datang. Pokoknya ramai,” ujar Zulkaidah. Alhasil, tambahnya, tak ada lagi orang ke pesta itu. “Semua ngerubungi aku. Pemilik pesta pun datang, bayarin tuak dan kacang goreng. Dia borong semua, tapi dengan syarat aku dimintanya pergi. Kejadian seperti itu sering terulang di banyak tempat,” katanya. Kini pun, meski tak lagi jualan keliling lantaran usianya kian senja, ia masih berjualan tuak serta sedikit penganan di kedai kopinya di tepi jalan raya Desa Tiga Dolok, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Di salah satu tiang penyanggah, tak jauh dari tempat penggorengan, tersangkut kantong kain lusuh berisikan peralatan sulim, yang hingga kini masih setia menemani Zulkaidah.

Ditemui pada suatu malam gerimis di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) di Pematang Siantar, beberapa waktu lalu, Zulkaidah begitu energik ketika memainkan sulim dan hasapi (kecapi dua tali) secara bergantian. Sesekali vokalnya yang bening muncul ke permukaan lewat nyanyian onang-onang (tentang adat istiadat) dan ungut-ungut. Pada masanya, berkat talenta bermain sulim dan vokalnya yang bening itu, Zulkaidah tak ubahnya bagai “ratu” yang selalu ditunggu kemunculannya di atas panggung opera Batak. Sejak bergabung sebagai tukang masak dan penjaga anak-anak para pemain opera Batak pada usia 13 tahun, Zulkaidah sudah merasakan pahit getir hidup di tengah komunitas seni tradisi. Sampai kemudian “karier”-nya meningkat menjadi pemain, pemusik, dan pelantun lagu-lagu opera Batak, ia pun tampil bagai sri panggung yang diidolakan. Apalagi sejak suara beningnya mulai di-”rekam” dengan tape recorder saat ia diundang ke rumah orang-orang kaya, Zulkaidah mengaku serasa bagai hidup di atas awan. Katanya, “Seperti melayang-layang. Ke mana-mana dijemput naik sedan.” Bahkan, setelah bangkrut pun ia mengaku masih “melayang-layang” bila ada wartawan datang, difoto-foto, dan masuk koran. Tak peduli para tetangga kerap men-cemeeh-nya sebagai seniman penjual kacang goreng. Lebih-lebih saat Rizaldi Siagian (etnomusikolog yang saat itu, 1989, masih sebagai dosen di Universitas Sumatera Utara) datang ke gubuknya. Rizaldi mengajak Zulkaidah pergi untuk ikut pentas di tempat yang baginya bagai tak terjangkau: New York, Amerika Serikat. “Ke Amerika! Ya, ke Amerika. Ini foto-fotonya dan ini fotokopi koran-koran orang Amerika tentang kami. Lalu, ini piagam dari panitia dan dari pemerintah,” kata Zulkaidah begitu antusias. Juga ketika ia bercerita tentang lawatan mereka ke Jepang.

Dua sisi mata uang
“Opung meninggal tahun 1973. Sebelum meninggal, ia minta agar aku meneruskan kelangsungan grup opera Batak yang telah ia bangun dengan susah payah. Kata dia, ’Boru Harahap, jangan kau sia-siakan usaha ini. Kalau kau sia-siakan, awas kau!’ Begitu Opung bilang, seperti mengancam,” kata Zulkaidah mengenang awal dari peristiwa kebangkrutan opera Batak yang ditinggalkan Tilhang Gultom, sang pendiri. Tak ada catatan persis bagaimana kehadiran jenis opera yang lebih mirip teater keliling ini di tanah Batak. Namun, yang pasti, nama Tilhang Oberlin Gultom selalu dikaitkan sebagai pemicu “kelahiran”-nya pada 1920-an ketika ia menggelar tontonan ini di pedalaman Tapanuli Utara. Adapun istilah opera Batak itu sendiri dilekatkan Diego van Biggelar, misionaris Belanda yang datang ke Pulau Samosir pada 1930-an.
Sepeninggal (alm) Tilhang Gultom, atas persetujuan keluarga Tilhang Gultom, perempuan kelahiran Desa Bunga Bondar, Sipirok, Tapanuli Selatan, ini memutuskan melanjutkan usaha pertunjukan opera Batak bernama Seni Ragam Indonesia alias Serindo tersebut. Untuk menghidupi sekitar 70 anggota, ia jual sebagian besar harta yang sempat dikumpulkannya selama menjadi maskot opera Batak semasa Tilhang Gultom. Sawah, tanah, serta perhiasan emas yang melingkari leher, lengan, dan pergelangan kakinya pun dilego. Serindo kembali menggelar pertunjukan keliling dari desa ke desa. Akan tetapi, ternyata “dunia luar” sudah berubah. Penontonnya sebagian besar sudah pergi ke pertunjukan dangdut dan televisi, sementara pajak tontonan dan “pajak” tak resmi dari oknum aparat membuat keuangan Serindo kelimpungan. Modal hidup terus terkuras, sampai akhirnya Zulkaidah menyerah. Tahun 1985 grup opera Batak Serindo ia kembalikan ke pemiliknya, keluarga (alm) Tilham Gultom. Sekitar 45 anggota yang masih tersisa akhirnya ia bubarkan. Hidup dari seni tradisi dan menghidupi seni tradisi, bagi Zulkaidah, ibarat dua sisi dari keping mata uang. Sejak bergabung sebagai tukang masak sampai pada satu masa menjadi tauke grup tersebut, opera Batak bagai sudah mengalir dalam darahnya. “Jadi seniman tradisional seperti kami ini, ya, ngeri-ngeri sedaplah. Bagaimana tak sedap, waktu di Jepang dan Amerika, semua orang hormat. Tidur di hotel mewah, makan tak kurang. Awak merasa kayak presiden saja, padahal cuma penjual kacang goreng,” ujarnya. “Tapi begitu pulang ke rumah, habis dari hotel mewah tidur di tikar. Air kadang tak ada, makan sehari-hari pun terancam. Belum lagi awak di-cemeh orang kampung. Ha-ha-ha…. Kadang-kadang awak berpikir, macam mana pula ini. Tapi sudahlah, darah kita kan sudah di kesenian….” (ken)
Biodata
Nama: Zulkaidah boru Harahap
Tempat Lahir: Desa Bunga Bondar, Sipirok, Tapanuli Selatan, tahun 1947
Pendidikan: Tidak tamat SD
Suami: Pontas Gultom alias Zulkarnaen
Anak:
- Nurjunita
- Nurjuniati
- Bandit
- Halijah

Jumat, 04 Maret 2011

SMAN 2 Plus Sipirok Juara Olimpiade Matematika & Komputer

SIPIROK-NAULI; SMAN 2 Plus Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan sebagai salah satu sekolah standar Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) menujukkan prestasi yang menggembirakan. Ini setelah awal tahun 2011, sekolah tersebut meraih juara Matematika dan Komputer dalam Science Competition Expo (SCE) untuk wilayah Sumatera Bagian Utara yang diselenggarakan 26-27 Ferbruari di kampus USU.
Kepala SMAN 2 Plus Sipirok Drs Marwan Harahap MPd didampingi guru pendamping Rodiyah T Siregar SPd dan Laila Sari Siregar SPd kepada METRO, Kamis (3/3) mengatakan, pada olimpiade tersebut, sekolah yang dipimpinnya menurunkan 60 peserta untuk mengikuti delapan mata pelajaran yang diperlombakan. Sementara jumlah peserta sekitar 2.000-an siswa dari wilayah Sumbagut meliputi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, dan Sumatera Barat.
“Dari delapan mata pelajaran yang dilombakan, kita meraih juara pertama dan kedua bidang studi Matematika yakni atas nama Maria Septi Aquanta kelasa XI IPA-1 dan Azmi Mulai Tua kelas X-1. Sedangkan pada bidang studi Komputer, anak kita, M Ridho kelas XI IPA-2 meraih peringkat kedua,” ujarnya.
Selain itu, kata Marwan, sembilan siswa peserta lainnya masuk kategori 30 besar dan masih berhak untuk mengikuti pendidikan intensif yang dilaksanakan oleh Komunitas Pengembangan Olimpiade Sains dan Tenaga Pendidik Indonesia (KP-OSTP) di Medan pada tanggal 14-20 Maret mendatang.
“Dari delapan bidang studi yang dilombakan, enam di antaranya masih ada peluang untuk anak-anak kita karena mereka masuk 30 besar dan berhak mengikuti pelatihan secara intensif. Namun khusus untuk Biologi dan Kimia, anak kita belum beruntung dalam kegiatan ini, namun saya yakin ke depan ini dapat dijadikan bahan evaluasi untuk meningkatkan kemampuan di bidang tersebut,” ucapnya mengakhiri. (Khh)

Seputar Kijang Nyebur ke Telaga, Kakek & Balita Tewas

Sopir dan Dua Penumpang Terios Dicari
TAPSEL-SIPIROK; Polres Tapsel hingga saat ini masih mencari sopir dan dua penumpang mobil Daihatsu Terios BK 36 MC yang menyeruduk Kijang Kapsul LGX BK 1594 DK di Jalinsum Aek Latong, Sipirok hingga masuk ke telaga, Rabu (2/3). Akibat lakalantas itu, dua penumpang Kijang, Pariang Tinambunan (72) dan Luster Tumanggor (4), tewas.

(f:metro/amran pohan)
Bagian depan mobil Terios yang ringsek setelah menabrak bagian belakang mobil Kijang Kapsul dan truk di Jalisum Aek Latong, Sipirok, Rabu (2/3) (foto atas). Mobil Kijang yang rusak berat setelah ditabrak Terios dari belakang. Hingga saat ini, aparat Polres Tapsel masih mencari sopir dan dua penumpang Terios.
“Pengemudi dan penumpang mobil Terios BK 36 MC ada tiga orang yang teridentifikasi, yakni satu pria dan dua wanita. Mereka diduga melarikan diri dan saat ini masih terus dicari,” kata Kapolres Tapanuli Selatan (Tapsel) AKBP Subandriya SH MH melalui Kasat Lantas AKP SL Widodo didampingi Kanit Laka Iptu Endang Efendi kepada METRO, Kamis (3/3).
Diutarakan Widodo, belum ada titik terang terkait keberadan sopir dan dua penumpang mobil Terios tersebut.
“Tapi dari cerita sopir mobil Kijang Kapsul, Paido Hasugian, mereka melihat ketiganya keluar dari mobil usai menabrak, dan menumpang mobil jenis pick up ke arah Pasar Sipirok. Kemudian dari Pasar Sipirok naik bus angkutan umum ke arah Kota Psp. Namun setelah kita susuri, tidak juga kita temukan keberadaan mereka,” ujarnya.
Ketika ditanya siapa pemilik mobil Terios tersebut, Widodo dan Efendi mengungkapkan, pemilik mobil itu merupakan warga Lubuk Pakam, Kabupaten Deliserdang.
“Pemilik mobil Terios ini dari kartu service yang kita temukan di dalam mobil, diketahui bernama Zairin Purba warga Jalan Imam Bonjol, Nomor 55, Lubuk Pakam, Kabupaten Deliserdang,” ungkap keduanya.
Untuk menindaklanjuti ini, sebut kedua perwira itu, Polres Tapsel akan bekerja sama dengan Polres Deliserdang untuk menanyakan kepada pemilik mobil Terios soal kepemilikan mobil dan identitas pengemudi mobil saat lakalantas terjadi.
“Kita akan bekerja sama dengan Polres Deliserdang untuk melacak pemilik mobil dan juga identitas tiga pengisi mobil Terios saat kejadian lakalantas. Sebab kuat dugaan kita ketiganya melarikan diri sesaat setelah kejadian, apalagi ketika mengetahui ada korban yang tewas. Mungkin saja karena ketakutan atau hal lainnya,” sebut mereka.
Ditambahkan Kanit Laka Iptu Endang Efendi, pihaknya masih belum menentukan tersangka dalam kasus lakalantas tersebut. Pasalnya, identitas dan juga keberadaan sopir mobil Terios belum diketahui.
“Kita saat ini masih mencari keberadaan ketiga orang itu bekerja sama dengan Polres Deliserdang untuk mencari pemilik mobil. Sehingga nantinya diketahui siapa yang membawa mobil tersebut dan juga bisa dilakukan pencarian terhadap ketiganya,” pungkasnya.
Jenazah Dibawa Pulang
Sementara itu Direktur RSUD Tapsel dr Ismail Fahmi MKes menuturkan, dua jenazah korban tewas lakalantas di Jalinsum Aek Latong yang rusak parah, Rabu (2/3) siang, yaitu Luster Tumanggor dan Pariang Tinambunan, usai divisum dan diformalin sudah dibawa pihak keluarga ke kampung halamannya untuk dimakamkan, Rabu malam. Demikian juga dengan korban luka ringan yang sudah pulang ke kampungnya di Pea Raja dan Parlilitan Kabupaten Humbahas menggunakan mobil pribadi. 
Kanit Laka Polres Tapsel Iptu Endang Efendi menambahkan, korban tewas dan selamat Rabu malam sekira pukul 19.30 WIB sudah berangkat dari RSUD Tapsel ke kampungnya.
“Korban tewas sudah dibawa pulang, demikian juga dengan korban luka-luka juga sudah pulang semalam. Tidak ada lagi yang tinggal,” ujar Efendi.
Seperti diberitakan sebelumnya, tabrakan beruntun terjadi di Jalinsum Aek Latong, Sipirok, Kabupaten Tapsel, Rabu (2/3) sekira pukul 13.00 WIB. Mobil Kijang Kapsul LGX BK 1594 DK diseruduk mobil Terios BK 36 MC di bagian belakangnya hingga terjun ke telaga. Sesaat kemudian, Terios menabrak truk di depannya hingga terjun juga ke telaga. Akibat lakalantas itu, dua penumpang Kijang, Pariang Tinambunan (72), dan Luster Tumanggor (4), tewas.
Informasi dihimpun METRO dari beberapa warga dan saksi mata menyebutkan, mobil Kijang Kapsul BK 1594 DK yang dikemudikan Paido Hasugian (32) warga Parlilitan, Kabupaten Humbahas bermuatan sembilan penumpang, dan mobil Terios BK 36 MC (sopir belum diketahui, diduga melarikan diri) datang dari arah yang bersamaan yakni arah Sipirok menuju arah Tarutung.
Saat melintas tepat di turunan curam jalan Aek Latong yang rusak parah, tiba-tiba mobil Terios yang berada di belakang mobil Kijang Kapsul melaju dengan kecepatan tinggi. Diduga, sopir Terios tidak mampu mengendalikan laju mobilnya dan langsung menabrak bagian belakang sebelah kanan mobil Kijang Kapsul. Akibatnya, mobil Kijang langsung terjun bebas ke dalam telaga berkedalaman sekitar 3-4 meter di sisi kanan Jalinsum Aek Latong (jika arah menuju Tarutung dari Sipirok).
Sementara ketinggian Jalinsum Aek Latong ke permukaan air telaga sekitar tiga meter. Beberapa detik kemudian, mobil Kijang tenggelam dalam telaga bersama penumpangnya. Mobil Kijang yang terjun ke dalam telaga tersebut sejumlah kacanya pecah.
Dari kaca pintu yang pecah dan pintu terbuka tersebutlah seluruh penumpang dan sopir Kijang keluar ke permukaan air untuk menyelamatkan diri dan berenang menuju tepi telaga. Penumpang yang selamat ada yang ditolong warga sekitar, rombongan keluarga korban dan pihak kepolisian hingga selamat di pinggir telaga. Sementara, salah seorang penumpang mobil Kijang, Pariang Tinambunan warga Parlilitan, Kabupaten Humbahas tewas setelah dievakuasi ke pinggir Jalinsum dari dalam telaga, demikian juga dengan penumpang lainnya, Luster Tumanggor.
Ternyata setelah menabrak mobil Kijang, laju mobil Terios yang kehilangan kendali tersebut tidak berhenti. Sebaliknya, Terios menabrak truk Fuso yang parkir di pinggir Jalinsum sisi kanan jika arah menuju Tarutung karena mengalami kerusakan radiator.
Karena menabrak bagian depan truk Fuso, mengakibatkan laju Terios berbalik arah atau berputar dan terpental menyusul mobil Kijang Kapsul masuk ke dalam telaga. Jarak mobil Terios dan Kijang di dalam telaga sekitar 10 meter. (khh)

Kamis, 03 Maret 2011

Tabrakan Beruntun di Aek Latong, Kijang Nyebur ke Telaga Kakek dan Balita Tewas

SIPIROK-METRO; Tabrakan beruntun terjadi di Jalinsum Aek Latong, Sipirok, Kabupaten Tapsel, Rabu (2/3) sekira pukul 13.00 WIB. Mobil Kijang Kapsul LGX BK 1594 DK diseruduk mobil Terios BK 36 MC di bagian belakangnya hingga terjun ke telaga. Sesaat kemudian, Terios menabrak truk di depannya hingga terjun juga ke telaga. Akibat lakalantas itu, dua penumpang Kijang, Pariang Tinambunan (72), dan Luster Tumanggor (4), tewas.

(f:mETRO/Amran Pohan)
Warga berupaya mengevakuasi mobil Kijang yang terjun ke dalam telaga di pinggir Jalinsum Aek Latong, Rabu (2/3).Luter, balita penumpang Kijang Kapsul yang tewas saat di gendong neneknya, Boru Pruba( kanan Atas )
Informasi dihimpun METRO dari beberapa warga dan saksi mata menyebutkan, mobil Kijang Kapsul BK 1594 DK yang dikemudikan Paido Hasugian (32) warga Parlilitan, Kabupaten Humbahas bermuatan sembilan penumpang, dan mobil Terios BK 36 MC (sopir belum diketahui, diduga melarikan diri) datang dari arah yang bersamaan yakni arah Sipirok menuju arah Tarutung.
Saat melintas tepat di turunan curam jalan Aek Latong yang rusak parah, tiba-tiba mobil Terios yang berada di belakang mobil Kijang Kapsul melaju dengan kecepatan tinggi. Diduga, sopir Terios tidak mampu mengendalikan laju mobilnya dan langsung menabrak bagian belakang sebelah kanan mobil Kijang Kapsul. Akibatnya, mobil Kijang langsung terjun bebas ke dalam telaga berkedalaman sekitar 3-4 meter di sisi kanan Jalinsum Aek Latong (jika arah menuju Tarutung dari Sipirok).
Sementara ketinggian Jalinsum Aek Latong ke permukaan air telaga sekitar tiga meter. Beberapa detik kemudian, mobil Kijang tenggelam dalam telaga bersama penumpangnya. Mobil Kijang yang terjun ke dalam telaga tersebut sejumlah kacanya pecah.
Dari kaca pintu yang pecah dan pintu terbuka tersebutlah seluruh penumpang dan sopir Kijang keluar ke permukaan air untuk menyelamatkan diri dan berenang menuju tepi telaga. Penumpang yang selamat ada yang ditolong warga sekitar, rombongan keluarga korban dan pihak kepolisian hingga selamat di pinggir telaga. Sementara, salah seorang penumpang mobil Kijang, Pariang Tinambunan (72), warga Parlilitan, Kabupaten Humbahas tewas setelah dievakuasi ke pinggir Jalinsum dari dalam telaga.
Ternyata setelah menabrak mobil Kijang, laju mobil Terios yang kehilangan kendali tersebut tidak berhenti. Sebaliknya, Terios menabrak truk Fuso yang parkir di pinggir Jalinsum sisi kanan jika arah menuju Tarutung karena mengalami kerusakan radiator.
Karena menabrak bagian depan truk Fuso, mengakibatkan laju Terios berbalik arah atau berputar dan terpental menyusul mobil Kijang Kapsul masuk ke dalam telaga. Jarak mobil Terios dan Kijang di dalam telaga sekitar 10 meter.
Beberapa detik setelah lakantas tersebut, sopir dan penumpang mobil Isuzu Panther BB 1520 LD yang berjarak sekitar 30 meter di belakang mobil Kijang yang juga satu rombongan, langsung memberikan pertolongan kepada penumpang mobil Kijang saat melihat kejadian tersebut.
Boru Purba penumpang Isuzu Panther langsung turun dari mobil setelah melihat kejadian sembari menyebutkan kalau cucunya, Luster Tumanggor (4), warga Kabupaten Humbahas belum ditemukan.
“Sebenarnya kami rombongan dengan mengendarai dua mobil berangkat dari Duri, Riau usai menghadiri pesta adat famili kami. Sebelum kejadian kami selalu jalan beriringan. Namun tiba-tiba di turunan itu (Jalinsum Aek Latong yang rusak parah, red) kami dilewati mobil itu (Terios) dengan kecepatan tinggi. Proses kejadian kami lihat sendiri, kamipun berhamburan memberikan pertolongan. Mereka yang ada di dalam mobil satu per satu muncul di permukaan dan kami tolong. Tapi satu orang meninggal setelah di pinggir jalan akibat lukanya. Sedangkan Luter, cucu saya belum ditemukan dan masih di dalam air itu bersama mobil,” ujar Boru Purba yang merupakan nenek Luter, salah seorang penumpang Kijang Kapsul yang tenggelam.
Junior Simanjuntak (37), salah seorang saksi mata yang juga sopir truk pengangkut elpiji yang sedang parkir sambil memperbaiki radiator truk mengatakan, sebelum kejadian, dari arah Sipirok mobil Kijang Kapsul warna hitam datang. Tiba-tiba di belakangnya mobil Terios datang melaju dengan kecepatan tinggi. Berselang beberapa dektik, sebut Junior, Terios yang berada di belakang menabrak mobil Kijang Kapsul bagian belakang sebelah kanan, dan selajutnya mobil Kijang terjun masuk jurang dan telaga.
Diutarakan Junior, mobil Terios sebelum masuk jurang, terlebih dahulu menabrak truk pengangkut elpiji yang sedang parkir, dan akhirnya terpelanting juga ke jurang. Namun, hanya bagian depan mobil Terios saja yang masuk ke dalam telaga, karena tersangkut di kabel telekomunikasi yang ada sepanjang pinggiran telaga.
“Saya sempat melihat kedatangan kedua mobil itu. Memang mobil paling belakang lajunya sangat kencang seperti putus rem, lantas menabrak bagian belakang Kijang Kapsul. Kemudian Terios menabrak bagian depan truk kami ini, dan akhirnya berbalik arah dan masuk jurang. Saya tak sempat melihat kondisi penumpang kedua mobil, karena saya terkejut dan gemetar ketika truk kami ditabrak saat sedang memperbaiki mesin akibat masuk angin. Kalau sempat bagian depan truk menimpa kami, tentu tak tahu lagi nasib kami bertiga,” kata sopir yang mengaku warga Medan tersebut.
Saksi mata lainnya, Subasri (18), dan L Jhon Tumanggor (62), penumpang mobil Isuzu Panther yang juga rombongan mobil Kijang Kapsul mengaku tidak dapat melihat secara jelas kejadian, karena banyaknya debu beterbangan. Namun, beberapa detik setelah kejadian dan melihat mobil keluarga mereka masuk jurang dan terjung serta tenggelam ke telaga, secara sigap penumpang mobil Isuzu Panther keluar untuk memberikan pertolongan.
Sopir dan penumpang mobil Kijang Kapsul, sebut mereka, ada 10 orang yang bersaudara dari satu kampung yaitu warga Parlilitan, Kabupaten Humbahas. Ke-10 sopir dan penumpang itu yakni Murni Hasibuan (41), Damarus Sihombing (34), Mukka Tumanggor (30), Minta Uli, Lesinter Sihotang (49), Paido Hasugian yang merupakan sopir (32), Lewinter Sihotang, Nursiti Sinaga (64), Luster Tumanggor (4), dan Pariang Tinambunan (72). Luster dan Pariang Tinambunan tewas, sementara korban selamat menderita berbagai luka. Seperti lecet dan lebam di kaki, tangan, kepala, wajah, punggung dan luka lainnya. Sata ini mereka sedang dirawat insentif di RSUD Tapsel di Sipirok.
“Kami merupakan rombongan usai menghadiri pesta di Duri, dan semuanya masih keluarga 10 orang di mobil tersebut (Kijang Kapsul, red), dan 7 orang lagi di mobil yang lain (Isuzu Panther). Kami rencananya mau pulang ke Parlilitan Kabupaten Humbahas dan Pea Raja,” kata mereka.
Proses evakuasi mobil Kijang yang terjun dan terbenam ke dalam telaga sekitar tiga meter dalamnya membutuhkan waktu. Sebab warga sekitar harus menyelam di air keruh untuk mencari di mana posisi mobil. Sekitar 10 menit kemudian, posisi mobil Kijang diketahui dan menggunakan mobil Torado (mobil pengangkut alat berat) yang kebetulan lewat.
Beberapa kali kabel dipasang untuk menarik mobil Kijang tersebut dari dasar telaga, namun sempat lepas dan putus, hingga akhirnya sekitar lima kali dipasang. Mobil secara perlahan bisa ditarik dari dasar telaga. Sesampainya di pinggir telaga, Luster tidak ada di dalam mobil. Sehingga proses pencarian di telaga dengan menyelam terus dilakukan. Sementara, mobil Terios belakangan ditarik oleh alat berat yang berpos di jalan rusak tersebut karena tidak sampai tenggelam. Alat berat itu selama ini digunakan untuk menarik mobil yang tidak mampu melewati tanjakan Aek Latong (jika arah menuju Sipirok).
Dalam proses pencarian Luster, Boru Purba, nenek Luster dalam jeritan tangisnya berdoa agar cucunya ditemukan.
Sekira pukul 17.00 WIB, jasad Luster berhasil ditemukan setelah meminta bantuan orang pintar. Sekitar 5 menit orang pintar ‘bekerja’, jasad Luster muncul dari dasar telaga dan mengambang. Saat itu juga warga dan keluarga mengevakuasinya ke darat dan membawanya ke RSUD Tapsel.
Lewinter Sihotang mengaku setelah mobil Kijang terjun ke dasar telaga dan dirinya masih di dalam mobil, dalam pikirannya, Lewinter dan keluarganya tidak akan selamat lagi. “Huripku nang mate ma hami sude di mobil i (Saya sangka sudah mati kami semua di dalam mobil itu),” ungkapnya.
Sedangkan sopir Kijang Kapsul, Paido Hasugian mengaku mereka bisa selamat dari dalam telaga merupakan sebuah mukjizat.
“Holan nipi ma bisa hami selamat sian mobil ini (Seperti mimpi kami bisa selamat dari mobil ini),” tuturnya.
Kapolsek Sipirok AKP Heru  S ketika dikonfirmasi melalui Kanit Lantas Bripka Syaiful Bahri Siregar membenarkan adanya kecelakaan lalu-lintas tersebut.
Diutarakan Syaiful, sopir dan penumpang Terios belum diketahui keberadaannya karena sudah melarikan diri.
“Sopir dan penumpang Terios melarikan diri ke arah Psp dengan menumpang mobil (angkutan umum). Kita masih melakukan pencarian,” ucap Syaiful. (ran)

PAK WALI Datanglah ke Parluasan!

Cetak E-mail
SIANTAR-METRO; Wali Kota Pematangsiantar Hulman Sitorus diminta segera meninjau Pasar Dwikora, Parluasan dan menemui para pedagang. Sebab sejak kebakaran pasar tradisional tersebut Minggu (27/2) malam, wali kota belum pernah datang hingga Rabu (2/3).

 (f:metro/fahmi)
SAMPAIKAN ASPIRASI- Para pedagang ricuh saat Camat Siantar Utara dan Kadis Pasar berlalu begitu saja dari lokasi Pasar Dwikora, Rabu(2/3).
Permintaan itu disampaikan anggota DPR RI, Dr Anton Sihombing, saat mengunjungi Pasar Dwikora, kemarin. Anton yang didampingi anggota DPRD Sumatera Utara (Sumut) Janter Sirait, meminta wali kota melihat langsung kondisi para pedagang yang kiosnya habis terbakar.
Politisi Partai Golkar tersebut juga mengaku sangat menyesalkan sikap wali kota yang terkesan membiarkan pedagang korban kebakaran saling gontok-gontokan. Sebagai kepala daerah di kota Sapangambei Manoktok Hitei, katanya, Hulman harus memberikan pemahaman kepada pedagang Pasar Dwikora.
“Kalau sudah ada pemahaman dari wali kota, berdasarkan pemahaman itu, pedagang bisa membuat kesepakatan untuk diajukan ke pemerintah dan DPRD. Kita DPR siap membantu,” tukasnya.
Masih kata Anton, DPR bisa membantu Pemko Pematangsiantar untuk pengajuan bantuan dana dari Kementerian Sosial dan Kementerian Perdagangan. Hanya saja, sambungnya, Pemko tidak bisa buang badan dalam pembangunan kios di pasar yang terbakar.
“Untuk membahasnya, anggota DPR RI akan menemui Wali Kota Siantar. Minggu ini juga, beberapa anggota DPR turun ke Pasar Dwikora, lalu mengajak pedagang untuk meminta Hulman memberikan pemahaman langsung kepada mereka,” sebutnya.
Hal senada dikatakan Janter Sirait. Anggota DPRD dari Fraksi Golkar ini mengatakan, adalah hal lumrah Hulman takut ke Pasar Dwikora saat kebakaran, Minggu malam lalu. Tetapi, lanjutnya, rasa ketakutan jangan terlalu lama, sehingga Hulman tidak pernah datang ke Pasar Dwikora untuk melihat kondisi pedagang korban kebakaran.
“Kalau Hulman tidak langsung turun ke Pasar Dwikora, dia harus selalu pasang telinga supaya bisa menangkap aspirasi pedagang. Bagaimanapun, Hulman harus tahu apa yang akan dilakukannya bagi para pedagang. Hulman sebagai Wali Kota Siantar pilihan rakyat, tidak usah takut dengan rakyat,” tegasnya.
Kekhawatiran Hulman atas ancaman masyarakat, sambung Janter, jangan terlalu lama. Hulman sebaiknya bisa berdialog dengan pedagang agar emosi mereka berakhir.
“Hulman harus datang ke Pasar Dwikora, dan melakukan dialog dengan pedagang! Atau paling tidak memberikan beberapa opsi untuk dipilih pedagang. Selanjutnya Hulman tinggal menunggu apa yang menjadi pilihan pedagang. Tidak mungkin Hulman dibalbali kalau datang ke Pasar Dwikora. Kan masih ada polisi yang mengamankan. Hulman harus memberanikan diri supaya permasalahan pedagang cepat selesai,” ujarnya.
Janter yang sudah pernah berkunjung ke Pasar Dwikora pasca kebakaran, Senin (28/2) bersama anggota DPRD Sumut lainnya, menambahkan DPRD Sumut siap membantu sepanjang ada permohonan Wali Kota Siantar. Dirinya pun berharap ada kesepakatan yang dibuat oleh para pedagang.
“Kalau pun ada terjadi perbedaan pendapat untuk menyelesaikan peristiwa ini, itu lumrah. Dari beberapa pendapat, pedagang harus mengkaji sebuah kesepakatan yang menguntungkan bagi semua pedagang,” tambah Janter.
Sementara Ketua DPRD Pematangsiantar Maruli Hutapea, terkait belum hadirnya Hulman ke Pasar Dwikora, mengatakan jika memang Hulman sebagai wali kota peduli, tentu akan datang melihat pedagang. Namun jika memang dia tidak mau, apa mau dibilang.
“Kalaupun hadir, sebenarnya sudah sangat terlambat karena wali kota telah mengetahui kebakaran tersebut ketika masih berlangsung. Terserah wali kota lah mau datang atau tidak,” tandasnya.
Tidak Punya Persfektif
Kepemimpinan
Ketua Studi Otonomi dan Politik (SoPo) Siantar-Simalungun, Kristian Silitonga mengatakan, tidak ada kebijakan yang tegas dan utuh dari Pemko Pematangsiantar terkait kebakaran Pasar Dwikora, semakin menunjukan Wali Kota Hulman Sitorus tidak memiliki persfektif kepemimpinan.
“Bukan hanya pada tataran kebijakan (penanggulangannya, red), bahkan sejauh ini pemimpin kota ini tidak jua mengunjungi lokasi kejadian untuk sekadar menunjukkan empati dan semangat bela-rasa atas musibah yang diderita warganya. Yang terkesan justru pembiaran dan kebijakan buang badan atas realitas persoalan, dan dalih keamanan dijadikan alasan pembenaran untuk absen saat kejadian,” kata Kristian.
Ia mengatakan, kebijakan penanggulangan yang ada terkesan parsial dan panik lewat nota kesepakatan antara wali kota dengan perwakilan pedagang, yang berisikn butir-butir  kesepakatan yang justru absurd dan membingungkan.
“Hemat saya, peristiwa publik seperti ini tidak bisa diselesaikan dengan cara-cara personal seperti itu. Ini bukan kapasitas wali kota sebagai pribadi, tapi lebih sebagai pejabat negara. Nota kesepakatan seperti itu tidak dikenal dalam konstruksi penyelenggaran pemerintahan daerah,” sebutnya.
Menurutnya, tentu ada standar penanggulangan bencana yang dapat ditempuh dengan melibatkan unsur Muspida dan instansi terkait.
“Koordinasi ini yang menurut saya tidak berjalan dengan baik. Wali kota dan jajarannya asyik dengan pikiran dan jalannya sendiri. Maaf, saya harus katakan pimpinan kota ini tidak memiliki persfektif kepemimpinan yang tegas dan dapat diteladani,” ujarnya.

Kadis Pasar & Camat Dicaci-maki
Dua pejabat di Pemko Pematangsiantar yang baru dilantik Selasa (1/3), yakni Kepala Dinas (Kadis) Pasar Sertaulina Girsang dan Camat Siantar Utara, dicaci-maki pedagang saat datang ke Pasar Dwikora, Rabu (3/2). Keduanya yang datang mengaku mewakili Wali Kota Pematangsiantar Hulman Sitorus, dinilai terkesan ‘sepele’ dengan para pedagang. 
Sebelumnya, Ikatan Pedagang Pasar Dwikora (IPPDA) menjembatani pertemuan pedagang dengan Wali Kota Pematangsiantar Hulman Sitorus di Pasar Dwikora. Bahkan IPPDA menyediakan tenda dan puluhan kursi sebagai tempat pertemuan.
Awalnya pedagang sempat senang karena mereka berpikir akan langsung bertemu dan memeroleh kepastian nsib mereka dari wali kota. Namun yang terjadi, wali kota hanya diwakili Kadis Pasar dan Camat Siantar Utara.
Itu pun, keduanya hanya sesaat berada di Pasar Dwikora. Bahkan Kadus Pasar Sertaulina hanya meminta para pedagang membuat kesepakatan terkait keinginan mereka, yang selanjutnya akan disampaikan kepada wali kota.
“Saya minta pedagang membuat kesepakatan. Apa maunya. Mau dibuat apa Pasar Dwikora. Kami hanya menerima keinginan pedagang,” katanya sembari melangkah pergi.
Hal yang sama dilakukan oleh Camat Siantar Utara Sertaulina Girsang.
“Berdasarkan nota kesepakatan antara pedagang dan Wali Kota Siantar beberapa waktu lalu, pedagang membangun setiap kiosnya dengan batu dan seng sesuai bestek. Biar semuanya serupa. Sedangkan besteknya, secepatnya akan diberikan oleh Dinas Pekerjaan Umum,” katanya, dan langsung berlalu meninggalkan pedagang.
Sikap kedua pejabat itu spontan membuat para pedagang emosi. Tak ayal, keduanya langsung dicaci-maki pedagang.
“Bin***** kau! Nggak tahu sopan-santun! Kau pikir kami pedagang ini, apa? Habis kau bilang cakapmu, langsung pergi! Belum lagi kami memberikan pendapat, sudah langsung pergi! Nggak punya mata mungkin si Hulman memilih kau jadi Kadis! Cocoknya kedua orang ini digonikan saja,” teriak pedagang.
Sementara pengurus IPPD hanya diam melihat kondisi tersebut.
Kepada METRO, Kadis Pasar Sertaulina Girsang mengaku tidak menolak permintaan pedagang. Tapi, katanya, dibutuhkan satu kesepakatan semua pedagang Pasar Dwikora. “Kami sebagai instansi terkait, sifatnya hanya menunggu hasil kesepakatan pedagang. Jadi, biar saja dulu pedagang berunding,” tukasnya.
Bubarkan
Organisasi Pedagang
Beberapa pedagang meminta agar organisasi pedagang di Pasar Dwikora dibubarkan. Sebab dinilai hanya untuk kepentingan pribadi. Apalagi kesepakatan yang dibuat organisasi pedagang dengan wali kota tanpa ada koordinasi terlebih dahulu dengan para pedagang.
Seperti dikatakan Bonar Saragih, pedagang di Pasar Dwikora.  
“Katanya organisasi untuk menyambung lidah pedagang. Nyatanya, buat kesepakatan tanpa ada koordinasi. Jangan-jangan mereka meminta uang dari Hulman, makanya  Hulman tidak mau datang ke Pasar Dwikora. Sebaiknya organisasi pedagang dibubarkan! Kami tidak mengakuinya. Jangan ada lagi yang mengaku-ngaku organisasi sebagai perwakilan aspirasi pedagang,” tegasnya.
Diakuinya, selama ini mereka tidak pernah mengetahui ada organisasi pedagang Pasar Dwikora. Tetapi di saat ada bencana, tiba-tiba muncul organisasi pedagang.
“Kalau memang ingin membantu pedagang, harus ada koordinasi dengan pedagang,” sebutnya.
Hal senada dikatakan Sawaluddin Saragih, pedagang buah. Ia mengatakan, para pedagang hanya butuh dana agar bisa membangun kios.  (osi/awa)
Polisi Didesak Ungkap Penyebab Kebakaran
Pedagang mendesak pihak kepolisian mengungkap peristiwa kebakaran Pasar Dwikora. Apalagi sejumlah pedagang menduga kuat pasar tersebut sengaja dibakar. Seperti dikatakan seorang pedagang, B br Saragih.
“Cuma ini kiosku, itupun harus dibakar. Kayak mana mau kubuat memperbaiki ini?” tanya perempuan berusia 57 tahun itu.
Ia menduga Pasar Dwikora sengaja dibakar oleh oknum tertentu untuk kepentingan kelompok tertentu. Alasannya, api yang semula kecil tiba-tiba langsung menyala besar dalam waktu cukup singkat.
“Halak na oto do iba. Alai, molo mangida parhatop ni api, gabe curiga iba (aku orang bodoh. Tapi, kalau melihat api cepat merebak, kita jadi curiga, red),” tukasnya.
Desakan agar polisi mengusut kasus kebakaran itu juga dilontarkan Ketua Forum Mahasiswa Peduli Hukum (FMPH) Siantar-Simalungun, Dian.
“Isu yang kita dengar, pasar sengaja dibakar oknum tertentu, dan desas-desusnya mengaitkan Wali Kota Hulman Sitorus,” tukas Dian, yang menyebut peristiwa kebakaran itu memberikan peluang kepada elit-elit politik untuk mengambil keuntungan pribadi.
Dian juga menduga, terbakarnya Pasar Dwikora merupakan sabotase untuk menjatuhkan Wali Kota Hulman Sitorus, yang sebelumnya mengeluarkan pernyataan Pemko tidak akan membakar pasar.
“Isu pembakaran sebelum kejadian itu digunakan sebagai trik agar wali kota bicara,” katanya.
Hanya saja, sambungnya, meski wali kota terkesan dijebak, namun ia tetap harus mempertanggungjawabkan pernyataannya kepada pedagang.
Untuk percepatan pengusutan, sambungnya, DPRD dimintakan memberi tekanan kepada Polresta.
“DPRD juga harus meminta pertanggungjawaban Hulman Sitorus sebagai Wali Kota Pematangsiantar yang sudah telanjur berjanji di hadapan para pedagang,” tambahnya.
Sementara itu DPC PDI-P Pematangsiantar juga mendesak aparat kepolisian dan DPRD mengusut penyebab kebakaran Pasar Dwikora. Seperti disampaikan Ketua DPC PDI-P Pematangsiantar Timbul Marganda Lingga SH, Rabu (2/3), di kantor DPC PDI-P Jalan Ricardo Siahaan, Kecamatan Siantar Simarimbun.
PDI-P, kata Timbul, prihatin atas musibah yang dialami para pedagang Pasar Dwikora. Terlebih mengingat Pemko Pematangsiantr terkesan buang badan dan seakan-akan tidak bertanggungjawab.
“Pemko seakan-akan tidak peduli dengan nasip ribuan pedagang,” katanya.
Hal itu, sambungnya, jelas terlihat dari tidak adanya upaya peningkatan pengamanan pasar, setelah munculnya isu pasar itu akan dibakar.
Sedangkan Sekretaris DPC PDI-P Pematangsiantar Pardamean Sibarani menambahkan, Pemko terkesan membiarkan kobaran api membumihanguskan ribuan kios milik pedagang.
“Informasi ini kita dapatkan dari kader dan simpatisan kita yang berdagang di pasar itu,” ujarnya.
Melihat kondisi itu, dengan tegas Pardamean menyebutkan DPC PDI-P Siantar mendesak kepolisian mengusut tuntas penyebab kebakaran. Kemudian mendesak DPRD Siantar membentuk Panitia Khusus (Pansus) dengan mendengar langsung kronologi kejadian dari pedagang. Serta mendesak Pemko bertanggungjawab penuh dalam melakukan pemulihan pasar seperti semula tanpa membebani pedagang.
“Sepanjang nota kesepakatan yang dibuat Pemko dengan perwakilan pedagang dapat membela kepentingan masyarakat banyak, kita setuju,” sambung Amri Simanjuntak selaku Wakil Ketua Hukum, HAM, dan Advokasi DPC PDI-P Siantar.
Namun demikian, lanjutnya, PDI-P akan tetap mendampingi pedagang dalam perwujudan pembangunan kios.
Ditambahkan Hendry Manurung selaku Wakil Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga DPC PDIP Pematangsiantar, pihaknya menyesalkan sikap Pemko Siantar yang tidak menjalin kerja sama dengan DPRD dan Muspida dalam mengambil sikap untuk penanganan dan penanggulangan nasib pedagang.
“Agak janggal kita rasa Pemko membuat kesepakatan dengan pedagang tanpa kehadiran DPRD dan Muspida,” ujarnya.

Selasa, 01 Maret 2011

Gedung Baru di Aek Latong Tak Kunjung Difungsikan

Dari Selesai Dibangun Tahun 2009
SIPIROK-METRO; Beberapa unit gedung milik Dinas Pertanian Kabupaten Tapanuli Selatan yang dibangun pada tahun 2009 di Dusun Aek Latong, Desa Marsada, Kecamatan Sipirok, belum difungsikan sebagaimana mestinya hingga saat ini.

(F:metro/Amran Pohan)
Komplek Perkantoran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tapsel di Dusun Aek Latong, Desa Marsada, Kecamatan Sipirok, yang belum difungsikan.
Pantauan METRO belum lama ini, sekitar 7 gedung tampak belum ada aktivitas kerja dan terkunci rapat. Ketika wartawan mengamati dari jendela kaca ke setiap ruangan yang ada, tak terlihat adanya perlengkapan kerja kantor, seperti lemari, meja dan kursi alias setiap ruangan lowong, bahkan tragisnya di beberapa sudut tampak kran air tak berfungsi dan kotoran binatang menempel dan mulai mengering di lantai.
Di samping itu, pintu gerbang (sorong) yang terbuat dari bahan besi sudah sulit untuk didorong. Kantor terlihat tulisan mulai memudar dan diperkirakan semenjak dibangun 7 gedung tersebut belum pernah difungsikan sebagaimana layaknya.
Keterangan diperoleh METRO dari beberapa warga setempat, sejak selesai dibangun pada tahun 2009 lalu, kondisi komplek tersebut belum berfungsi. Namun, sesekali dua atau 4 orang dengan pakaian dinas datang ke lokasi sekadar meninjau.
“Sejak selesai dibangun memang belum berfunsi, hanya saja sesekali 4 orang mengunjungi lokasi tersebut dan beberapa saat pulang. Lalu, kalau tidak salah memang ada yang menjaganya, tapi sekarang tak tahu lagi,” kata beberapa warga yang jumpai METRO bermarga Siregar dan Pane.